Assalamualaikum wr.wb, Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali melihat makhluk-makhluk kecil seperti semut tanpa memperhatikan aktivitas mereka. Namun, tahukah kita bahwa semut termasuk makhluk yang senantiasa bertasbih kepada Allah SWT? Sebuah hadits menarik dalam kitab Shahih Bukhari mengisahkan perintah seorang nabi untuk membakar sarang semut.
Hadits: Membakar Sarang Semut
Dalam Shahih Bukhari, diceritakan bahwa seorang nabi, yang dalam beberapa pendapat diidentifikasi sebagai Nabi Musa AS atau 'Uzair, pernah mengalami gigitan semut. Sebagai reaksi, nabi tersebut memerintahkan untuk membakar sarang semut. Namun, Allah SWT menegurnya melalui wahyu, menyatakan bahwa dengan membakar sarang semut, nabi tersebut telah membakar sebuah kaum yang senantiasa bertasbih kepada Allah.
Hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ فَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنْ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ
Artinya: Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair, telah bercerita kepada kami Al-Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyab dan Abu Salamah bahwa Abu Hurairah RA berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Ada semut yang menggigit seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu lalu nabi itu memerintahkan agar membakar sarang semut itu maka kemudian Allah mewahyukan kepadanya, 'Hanya karena gigitan seekor semut maka kamu telah membakar suatu kaum yang bertasbih (kepada Allah)'."
Dari hadits ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang kebijaksanaan dalam menghadapi hewan-hewan kecil yang mungkin menjadi sumber gangguan.
Perspektif Ulama: Larangan Membunuh Semut
Meskipun hadits di atas memberikan pemahaman bahwa semut bertasbih kepada Allah, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait membunuh semut. Imam Nawawi melarang membunuh semut berdasarkan hadits lain yang melarang membunuh empat jenis hewan, termasuk semut.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعِ مِنَ الدَّوَابِ: النَّمْلَةُ وَالنَّخْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ
Artinya: "Sesungguhnya nabi melarang membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, burung hudhud dan burung shudad." (HR Abu Dawud dengan isnad shahih sesuai syarah Bukhari dan Muslim)
Meski demikian, ada pendapat yang memperbolehkan membunuh semut, terutama semut yang dianggap membahayakan. Al-Qasthalani berpendapat bahwa larangan membunuh semut khusus untuk semut yang besar, sedangkan semut yang kecil diperbolehkan.
Tafsir dari Al-Qur'an
Dalam surah Al Isra ayat 44, Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi, beserta isinya, senantiasa bertasbih kepada-Nya. Setiap makhluk, termasuk semut, melibatkan diri dalam tasbih dan memuji-Nya.
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤
Artinya: "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
Artikel ini mengajak kita untuk merenung tentang kehidupan makhluk kecil seperti semut, serta menghormati dan memahami peran mereka dalam menciptakan harmoni dalam alam. Sebagai insan yang berakal, mari kita merenungi hikmah dari setiap ciptaan Allah dan berupaya hidup berdampingan dengan makhluk-Nya, Wassalamualaikum wr.wb.
Author : Rifky Faturrachman Puloo
